Kisahku

Kehidupan berawal dari janin yang menempel pada dinding rahim. Ia melekat di sana berkat kasih sayang ibu dan kemurahan sang pencipta. Betapa tak berdayanya kita berada dalam tiga kegelapan, yang hampir sembilan bulan mendekap jabang kita. Kita bersambung dengan tali plasenta. Kita juga beriteraksi deengan dunia luar melalui aliran darah ibu yang mengangkut bangunan pembentuk tulang, daging dan darah, yang berasal dari protein, vitamin, mineral, dan air. Saat itu tubuh kita sedang di bangun. Proses penciptaan yang sungguh luar biasa. Setelah tiba waktunya, kontraksi otot dinding rahim meremas si janin keluar dengan pertarungan hidup mati sang ibu. Sebuah kehidupan mulai terukir,tingkat demi tingkat.
Hujan malam itu mengguyur deras kampung kramat, dempet, demak. Bu kalsum, ibu-ibu yang hamil tua sedang membersihkan kasur di ruangan kecil berkelambu, sebelum kasurnya di tiduri karena hari telah larut malam, ketika sedang menyiapkan obat nyamuk tiba-tiba ia merasa mulas di perutnya, “bapak,,,,,” teriaknya minta bantuan kepada pak nuriman, suami yang selalu menemaninya sepanjang hari selama 25 tahun lamanya.
Jum’at, 13 februari 1995 tepat jam 23:15, sang buah hati lahir perempuan sehat dan cantik, tapii sayang, selama ini keluarga bapak nuriman mengharapkan kehadiran seorang anak laki-laki, karena empat anak sebelumnya semuanya perempuan, ternyata anak yang di tunggu-tunggu seorang laki-laki, lahir cantik perempuan, meskipun begitu mungkin itulah yang terbaik yang di berikan oleh Allah.
Sejak dua puluh hari setelah kehadiran si cantik Nailys syifa, sang ibu dan bapak bergegas pergii mencari nafkah untuk makan keluarga besar itu. Syifa, gadis mungil itu tumbuh tanpa kedua orang tua di sampingnya, meskipun materi selalu ada buatnya, dia tidur dan tumbuh bersama kakak tertua dan neneknya, sang nenek yang merasa iba pada gadis mungil itu tidak tega untuk meng-imunisasi sang bayi, karena ia pun tak mengetahui bahwa manfaat yang sebenarnya begitu penting bagi sang bayi ketika tumbuh dewasa.
Si gadis mungil tumbuh hingga dia telah berumur 7 tahun, tak jarang ia sakit karena pola makan yang tidak teratur, hingga suatu saat ia dibawa ke rumah sakit oleh kakak pertamanya, seperti biasa selayaknya seorang anak kecil ketika sakit, ia ingin sang ibu di sampingnya, “ibu,,, ibu,,,,,” dia menangis, ketika ia sadar dan tak mendapati sosok ibu di sampingnya, “ibu masih di jalan syifa, sebentar lagi ibu akan sampai, sang kakak menenangkannya.
Syifa semakin tumbuh besar, ketika itu dia duduk di bangku kelas 5 SD, keluarganya sedang dilanda krisis ekonomi, usaha orang tuanya bangkrut hingga puluhan juta, akhirnya, kedua orang tuanya memutuskan untuk tinggal di sebuah pesantren di lasem, meninggalkan syifa, tapi ia selalu mencoba tegar dengan semua itu, cobaan itu menjadikan ia semakin rajin beribadah, setiap malam diam-diam dia bangun untuk melakukan sholat malam, karena di tak ingin seorangpun dari kakaknya tahu akan hal ini, gadis kecil itu mengadukan nasibnya kepada tuhan, dengan suara terputus-putus dan cucuran air mata yang membasahi pipi halusnya, ia bersujud.
Tuhan menjawab do’a gadis kecil itu, di sekolahnya syifa cukup di kenal oleh guru-guru karena dia gadis yang super aktif dalam setiap kegiatan, pagi itu dia masuk lebih pagi, karena hari itu ia memiliki jadwal piket kelas, dia melihat salah seorang guru menempel sesuatu di mading sekolahnya, dengan segera dia berlari menuju mading.

PENGUMUMAN
Bagi kelas 5 agar segera mempersiapkan teks pidato bahasa indonesia dan di hafalkan, karena senin depan akan di adakan seleksi untuk mewakili sekolah mengikuti lomba porseni di tingkat kecamatan, di senin selanjutnya.
Guru kelas 5

Melihat pengumuman tersebut, dia segera menulis karangan kecil satu lembar penuh mengenai salat, sesampainya di rumah ia memberi tahu kakaknya yang ke-2 dan memperlihatkan teks yang telah ia buat untuk di koreksi sang kakak, di bantu kakaknya setiap hari dia menghafal dan berlatih hingga waktu seleksi berlangsung, “aduh,,,, deg-degan, semoga nanti aku di depan bisa lancar” dalam hatinya ia berdoa, setelah seleksi hari itu juga diumumkan siapakah yang berhak mewakili sekolah untuk ke kecamatan, sungguh Allah maha adil. Dia di pilih oleh Pak Sunaryo guru keagamaan di sekolahnya untuk mewakili sekolah.
Syifa pulang membawa kabar gembira kepada sang kakak yang membantunya berlatih, “ini berarti usahamu gak boleh sampe disini saja sayang, syifa harus lebih sering latihan lagi supaya nanti syifa bisa menang di lomba itu, syifa pengen menang gak,,,?” ujar mba’kum kakaknya yang setia menemani syifa berlatih, “ia syifa harus menang mbak,,, syifa yakin kok syifa pasti bisa, tapi,,,” tiba-tiba gadis kecil itu meneteskan air matanya, “mbak sekarang ibu dan bapak gimana kabarnya,, syifa mau minta do’a supaya nanti syifa bisa bawa pulang piala buat mereka, syifa kangen, syifa sayang sama ibu,,,, syifa juga sayang sama bapak, mbak syifa pengen nelpon ibu, Syifa kangen sama mereka, syifa pengen cerita kalo syifa mau ikut lomba,,,” sederet keinginan dan pertanyaan itu membuat sang kakak tak kuasa menahan air matanya, “sayang,,,,, ibu sama bapak baik-baik saja di sana, syifa jangan sedih ya ,syifa banyak do’a aja buat ibu sama bapak, syifa tunjukin kalo syifa bisa, ayo dong,,, syifa semangat ya sayang, nanti mbak minjem hp dulu buat nelpon ibu, tapi syifa harus janji syifa gak boleh sedih lagi.”
Setiap hari ia berlatih, tingkat kecamatan berhasil syifa lalui, begitu juga di tingkat kabupaten hingga ia mewakili kabupaten ke tingkat provinsi, bersama guru keagamaannya syifa menempuh perjalanan ke Purwakarta, berbeda dengan peserta yang lain. Mereka berangkat didampingi kedua orangtuanya, syifa pun kembali teringat kedua orangtuanya yang jauh darinya, tapi syifa mencoba untuk tidak menangis, “syifa gak boleh nangis, syifa udah janji sama mbak kum, syifa gak boleh nangis.” Bisiknya dalam hati.
Sesampainya di Purwakarta syifa bersama peserta lain beristirahat di sebuah rumah yang telah di siapkan oleh Kabupaten, esoknya dia langsung menunggu giliran untuk berpidato, syifa mendapat nomor undi 7, ketika peserta nomor enam sedang berpidato di depan, tiba-tiba segerombolan guru-guru dari kecamatan datang, bersama kakaknya yang ke-4 dan ibunya, melihat ibunya datang, syifa langsung berlari mendekatinya dan merangkul sang ibu, “makasih ya ibu, tunggu sebentar ya syifa nanti maju, syifa akan nunjukin ke ibu kalo syifa bisa, syifa sayang ibu,,,” “ ia sayang, ibu juga sayang sama syifa, udah sana duduk lagi, semangat ya,,,,”
Tujuh menit berlalu, tepuk tangan dari segenap dewan guru juga penonton lainnya mengakhiri ceramah yang dibawakan syifa, karena pengumuman di sampaikan dua hari kemudian, rombongan dari kecamatan memutuskan untuk pulang lebih awal, di perjalanan pulang syifa asik bercerita sana-sini tentang kejadian-kejadian yang ia alami selama sang ibu tak ada di sampingnya,
Pengumuman telah datang ke kepala sekolah, “selamat ya syifa, kamu dapat juara dua, semenjak kejadian itu ekonomi keluarga syifa sedikit demi sedikit mulai menanjak, syifa semakin di kenal oleh masyarakat. nama baik orang tua syifa kembali melambung. Undangan sana-sini masuk dalam agenda syifa, semakin rajin ia berlatih, tapi tak di sangka diam-diam syifa menyembunyikan rasa lelahnya. Berbagai tawaran pun selalu datang menghampirinya. Namun, Syifa tak ingin mengecewakan masyarakat yang telah mengundangnya jauh-jauh hari untuk mengisi berbagai acara di kampung. Rasa lelah pun akhirnya tak mampu menyurutkan semangatnya.
Tak berhanti sampai di situ, sakitnya semakin menjadi. Kini ia tak mampu menyembunyikannya kembali, ia di larikan ke rumah sakit, padahal tiga hari mendatang ia harus mengisi acara di kampung sebelahnya, lagi-lagi sang bunda tercinta tak hadir di sampingnya, ibu syifa telah kembali ke pesantren setelah syifa menerima pengumuman dari provinsi, ia tinggal bersama kakak dan neneknya kembali, dengan biaya hidup hasil undangan syifa juga beasiswa yang syifa dapat.
Dua hari syifa tinggal di rumah sakit karena virus salmonella typussae yang menyerang sel tubuhnya, sepulang dari rumah sakit ia kembali berlatih, padahal kakaknya telah bermaksut untuk membatalkan undangan yang tinggal satu hari lagi, tapi syifa kekeh untuk tetap datang di undangan itu, melihat semangat sang adik, kakaknya luluh dan memberi kesempatan kembali ke syifa, begitulah gadis mungil itu membangun kehidupannya, ia mendapatkan sebutan “Dai cilik” di kampung tempat ia tinggal.
Detik-detik menjelang Ujian Nasional Akhir Sekolah, ibu dan bapaknya kembali dan tinggal lagi bersamanya, ia terkejut ketika bangun tidur sang ibu telah menyiapkan sarapan pagi kesukaannya, belut penyet bersama sayur bening, melihat masakan itu ia langsung mencari sang bunda yang sedang mematikan kompor di dapur.

Syifa bingung memilih sekolah mana syifa akan meneruskan, ia ngerengek ke orang tuanya, “ibu syifa pengen sekolah sama mondok bareng mbak ulin (kakak ke-empat) di semarang, kalo syifa di rumah syifa takut kena pergaulan teman syifa yang gak bagus bu,,,, syifa mondok ya,” “tapi syifa, kamu masih kecil, kamu di rumah ja ya sekolahnya syifa milih di kampung sebrang pa di Mts kramat? Ibu belum punya duit buat biaya syifa ke pesantren, kakak kamu yang dua kan masih kuliah sama di pesantren, nanti kalo kakakmu udah keluar syifa baru masuk pesantren gak papa, nanti pas syifa lulus Mts.” Tutur ibu syifa, “tapi bu dulu kakak masuk pesantrennya kan selesai SD juga, syifa juga pengen bu’ giliran kakak masuk pesantren ibu punya duit tapi pas syifa,,,,,, ibu gak sayang sama syifa” syifa lari masuk kamar kemudian mengunci kamarnya dengan sebatang paku rapuh yang di masukkan ke lubang yang telah dibuatnya sedemikian rupa, hingga sang ibu tak bisa masuk.
“ibu gak sayang sama syifa, ibu gak pernah ada di samping syifa, ibu gak pernah beliin syifa baju, selalu kakak yang beliin semuanya, dari kecil syifa ibu tinggal, bahkan waktu sakit ibu gak pernah ada di samping syifa” syifa senaja teriak biar ibunya dengar, tapi sayang ibunya tak mendengar apa yang barusan ia katakan, setelah syifa masuk kamar, ibunya telah keluar untuk kembali bekerja.
Syifa nyesel bicara seperti itu, tapi syifa sedih memang selama ini ibunya tak pernah ada waktu untuknya, ia mendapat cerita dari tetangga dekatnya bahwa kehadiran syifa tak di dinginkan dalam keluarga itu, yang mereka inginkan adalah sosok laki-laki mungil yang selama ini mereka tunggu-tunggu, untuk hadir dalam keluarga itu, mendengar cerita tersebut syifa menutupi kesedihan di depan tetangganya, “hai syifa anak yang gak di inginkan,” temannya mengejek, berita itu menyebar di sekolahnya, entah siapa yang membawa berita itu, tapi keluarga dan orang tua syifa tak pernah tau mengenai hal itu, karena mereka tak pernah ada waktu untuk mendengarkan cerita syifa.
Pembagian Raport dua hari lagi, tapi syifa tidak memberikan undangan ke bapaknya karena syifa tau pasti bapaknya bilang, “syifa ambil sendiri, bapak lagi sibuk,” perkataan itu yang selalu muncul di setiap syifa meyodorkan undangan-undangan dari sekolah, orang tuanya tak pernah mau tau tentang nilai syifa, orang tuanya dan kakaknya hanya ingin syifa rangking 1 di setiap semester.
Di setiap syifa pulang bawa Raport dengan nilai yang mereka inginkan mereka hanya diam, bahkan kata selamatpun tak terucap olehnya, tapi ketika melihat nilai raport syifa rendah, mereka marah-marah,,,,, bentak-bentak tanpa bertanya “mengapa syifa nilainya turun???” pertanyaan yang selama ini ia harapkan, karena ia berharap dengan pertanyaan itu syifa bisa bercerita tentang semuanya, mereka hanya menuntut syifa.
Malam itu setelah syifa mendapati nilainya yang merosot syifa terdiam di kamar” ibu,,,, kakak asal semuanya tau, syifa senaja gak belajar, syifa setiap hari main sama temen kasana-kesini bahkan syifa punya pacar banyak, agar nilai syifa turun agar kalian bertanya kenapa syifa jadi seperti ini, tapi,,, kalian tak peduli semua itu, ibu,,, syifa ingin seperti yang lain, di temani kakaknya belajar, cerita bareng ibunya sebelum tidur, syifa punya banyak cerita, syifa butuh teman cerita ibu,,,” ia menulis di buku diary yang menemaninya sejak kecil yang pernah di kasih oleh sahabat Sdnya dulu.
Sahabat di SD yang setia mendengar ceritanya, tapi ia harus kehilangan nya ketika di kelas 6 SD sahabatnya punya umur yang lebih muda darinya, sahabatnya terserang penyakit yang tak ia ketahui selama di persahabatan mereka.
Prestasi syifa semakin merosot, tapi tak ada yang memedulikannya, syifa lelah dengan semua itu, sandiwara yang membuatnya tak mampu merubah keadaan, sandiwara yang menciptakan sebuah memo baru dalam hidupnya, “syifa harus bisa membuat semuanya sadar tentang syifa, syifa harus bangkit dan menunjukkan ke meraka, syifa adalah anggota keluara itu, syifa harus bisa”.
Kelas tiga ia mulai bangkit tanpa memedulikan pikiran-pikiran negatif yang pernah ia terima dulu, yang ia fikir hanya satu memo yang harus terwujud secepatnya, semua hasil syifa tak sia-sia, ia dapat peringkat tiga paralel untuk hasil Ujian Nasional Mtsnya, tapi itu belum mampu membuat memonya terwujud.

Lulus UN dan menentukan sekolah lanjutan
Malam itu bapaknya duduk di bangku kayu yang telah puluhan tahun menyaksikan manis pahinya kehidupan keluarga itu, sebuah benda saksi bisu kehidupannya.
“bapak syifa ingin nerusin sekolah faforit di SMA DEMAK sama di pesantren,” SMA faforit yang juga dulu tempat bersekolah kakaknya yang ke-2, memang biaya sekolah di sana lebih mahal dari sekolah lainnya.
Tiba-tiba air mata ayah syifa menetes, “Kalo syifa ingin melanjutkan sekolah, syifa harus banyak do’a, syifa tau sendiri uang bapak gak mungkin cukup untuk biaya sekolah di SMA, belum biaya di pesantren, tapi bapak yakin syifa bisa sekolah lagi kalo syifa minta sama allah, berdo’alah nak, sabar suatu saat kamu pastu bisa,” lalu beranjak dari tempat duduk, “nak”sebutan yag pertama kali bapaknya berikan buatnya, sebenarnya bapak syifa adalah sosok pekerja keras, ia punya tekad beda dengan orang kampung lainnya yang memberikan materi kepada anak, menikahkan anak setelah lulus SD atau Mts, kemudian membelikan kursi,rumah, atau tanah buat kehidupan baru anak-anaknya. Tidak dalam keluarga itu, semua anak pak nuriman harus lulusan pesantren dan punya ilmu yang cukup kemudian baru boleh nikah, walaupun setelah nikah ia tak membelikan sesuatu untuk anaknya tapi ia yakin dengan ilmu yang anak-anaknya miliki mampu mencukupi kebutuhan mereka.
Mendengar jawaban dari bapaknya ia sedih, “ya allah salahkah syifa bilang apa yang syifa mau ke orang tua syifa, sampai orang tua syifa meneteskan air matanya, ya allah ampuni syifa,,,,, syifa hanya ingin sekolah lagi, berilah syifa kesempatan untuk menuntut ilmu kembali ya allah, syifa mohon,” ia berdo’a di setiap malam.
Dua bulan lagi masuk tahun ajaran baru, “syifa ke kudus aja ya di pesantren darul falakh Bareng, jekulo kudus.” Ujar bapaknya, “alhamdulillah yaudah pa gak papa syifa mau asal syifa sekolah sama di pesantren.”
Dua bulan berjalan, pendaftaran MA NU NURUL ULUM kudus telah di buka, brosur telah sampai ke pesantren, rincian biaya segera ia beritahukan ke orang tuanya, “syifa daftar nanti akhir-akhir aja ya,” begitu bapaknya bilang di telfon asrama pesantren sore itu.
“syifa mau daftar sekolah gak, biar sekalian ni di daftarin pengurus pesantren” ayuk teman Mts yang ikut satu pondok dengannya, “syifa nanti yuk sama bapak sendiri”. Penutupan pendaftaran dua hari lagi tapi bapaknya belum datang juga.
Tepat selesai salat asar berjama’ah orang tua syifa datang ke pondok, “lho bapak kesini kok gak nelfon syifa dulu,” ia terkejut lihat bapaknya yang baru datang, “syifa beres-beres ya kita pulang” jawab bapaknya. “oh ya jangan tanya kenapa langsung bawa ja barang-barangnya”, syifa bingung ia hanya bertanya-tanya dalam hatinya, ketika ayuk bertanya ia pun hanya bilang gak tau, “syifa gak pindah kan,,,” ayuk bertanya dengan muka khawatir, “gak yuk syifa pulang sebentar ja salam ya buat yang lain syifa pulang dulu”.
Sesampainya di rumah bapaknya tak bercerita apa-apa, kemudian syifa tanya sama ibunya, ibunya menceritakan yang sebenarnya terjadi, “ibu sama bapak belum punya duit buat biaya pendftaran syifa ke sekolah sana syifa”,Mendengar cerita ibunya syifa diam tak bersuara kemudian masuk kamar.
Tak lama kemudian paman syifa yang ngajar di pesantren Bogor nelfon orang tua syifa, tak senaja pamannya menanyakan hal-hal mengenai syifa, orang tuanya menceritakan hal itu dengan detail, paman syifa akhirnya memberikan tawaran untuk tinggal di pesantren dan sekolah di bogor sesuai keinginan syifa,di sana semuanya gratis tanpa di pungut biaya sepeserpun, di sana tahun ajaran baru dimulai setelah lebaran.
Tapi syifa di kasih pilihan lain, karena Mts yang syifa tempati telah bekerjasama dengan MA yang terletak di samping pasar Gajah, syifa masuk daftar yang di jamin beasiswa semesteran di sana karena dia masuk di tiga besar hasil Ujian Nasionalnya.
Tiga hari kemudian syifa memutuskan untuk bersekolah di bogor dia ingin pengalaman yang beda, “ibu syifa di sana ja, syifa mau di bogor, kalo ntar syifa di MA sini syifa takut terpengaruh pergaulan yang salah,” “tapi syifa bener udah mikirin itu,,,? Kalo syifa di sana bisa jadi syifa pulang setahun sekali, syifa mau,,,? Gak papa toh..?” perkataan itu membuatnya berfikir dua kali untuk niatnya yang pertama.“Gak papa deh buk syifa udah mikirin semua konsekuensinya nanti ketika syifa di sana”,
Segala persiapan telah syifa masukan ke dalam ransel besar bekas kakaknya, pamannya telah datang jemput syifa, syifa menempuh perjalanan malam menuju bogor, sampai di komplek guru pesantren rafah tempat pamannya tinggal adzan dluhur, istirahat di sana sampai setelah asar baru berangkat ke pesantren yang di maksut oleh pamannya.
Syifa tercengong melihat jumlah santri lainnya yang ratusan, setelah selesai administrasi, pamannya meninggalkannya, pamannya janji tiga hari mendatang pamanya datang bersama kakak ipar syifa yang tinggal di cibubur.
Ia melalui hari-hari dengan hal yang beda segala keterbatasan di sana membuat syifa gak kuat menjalani hari-harinya, setiap malam ia menangis menunggu kedatangan keluarganya yang janji mau datang tiga hari kemudian,
Syifa segera berlari ketika mendengar namanya di panggil oleh pengurus pondok, menandakan keluarganya telah datang, ia berlari kemudian merangkul erat kakak iparnya, ia menangis bercerita tiga hari di sana gak kebagian nasi buat makan jatah nasi putih satu gelas tanpa lauk, antrian panjang yang membuatnya telat salat berjamaah.
“syifa ingin nelfon ibu kak, syifa pengen pulang, syifa gak betah tinggal di sini,” melihat syifa menangis kakaknya mencoba menenangkan, tapi kalo dia membawa syifa pulang orang tuanya akan malu, apa kata tetangganya nanti, mau sekolah jauh-jauh malh gak jadi, syifa di rangkul sama bibinya.
Setelah beberapa menit kemudian paman syifa ngobrol dengan kakak syifa mereka memutuskan untuk meninggalkan syifa satu hari kemudian, tapi syifa gak mau syifa udah gak kuat tinggal di sana, keluarga syifa tetap meninggalkan syifa, syifa tak melepaskan tangan kakak iparnya, satpam keamanan pondok datang dan memasukkan syifa kembali ke dalam pondok kemudian menutup pintu gerbang pondok yang tingginya sampai lima meter itu.
Syifa masih menangis tanpa memedulikan teman-teman yang melihatnya duduk di samping gerbang, syifa tak mau beranjak dari depan gerbang sebelum kakak iparnya datang,
Hari semakin sore matahari mulai tenggelam tiba-tiba suara petir terdengar membelah langit, hujan deras mengguyur tapi syifa tetap tak beranjak dari tempat duduknya, bahkan ia tak peduli dengan badannya yang telah memberu kedinginan terkena air hujan, jam menunjukkan pukul dua belas malam, tandanya ia harus segera tidur, syifa gadis yang dulu penuh dengan keceriaan kini ia menangis seharian tak berhenti.
“Kukkuruyuk,,,,,,,,,,,,,,,” matahari kembali terbit, jam dendang pondok telah berbunyi menunjukan pukul sepuluh pagi, tapi tak seorangpun datang menjemputnya kembali, ia tetap di situ syifa memang gadis yang punya pendirian tetap dan keras kepala.
Tok-tok gerbang di ketog dari luar, pengurus datang dan segera membukanya, syifa kakaknya datang, syifa mengusap air matanya sambil berlari dengan berat, badannya penuh tanah ia berlari tak sekencang pertama ia berlari, kakinya terseret, sampai ia terjatuh di depan sang kakak.
“syifa kenapa bisa kayak gini,,,?” kakak iparnya mengoleskan obat penghangat di kepala syifa, “ kak syifa gak mau disini,,,, syifa gak betah,” setelah syifa siuman ia duduk dan menceritakan satu hari yang lalu setelah kakaknya meninggalkannya.
“Yaudah kakak minta ma’af syifa, syifa bersih-bersih siapin barangnya kita pulang, paman telah menyiapkan pesantren sasaran kedua di depok, tapi nanti di sana syifa ikut tes terlebih dulu, tes beasiswa, tapi kalo syifa gak lulus mungkin akan di pungut biaya separoh, soalnya di sana pesantren baru,” kakaknya sedikit menenangkan syifa,
Syifa tak sabar melihat pesantren barunya, di sepanjang jalan ia berdo’a agar di beri kemudahan ketika mengerjakan soal tes nanti, sekolah beru yang belum berdiri utuh, tumpukan bata berjejer di lapangan pesantren, “assalamualaikum,,,,” paman syifa mengetuh pintu rumah pengasuh pesantren, setelah menyerahkan raport syifa nunggu panggilan tes beasiswa, “syifa nanti di sini sambil bantu-bantu ibu ya,” sapa pengasuh barunya, “ia ustadz insyaallah” syifa menjawab dengan lugu.
Kring,,,,,,, kring,,,, bunyi telfon kakak iparnya, “syifa ibu ni mau ngomong,” syifa segera keluar kemudian ngobrol banyak dengan sang bunda, syifa memberi kabar gembira kepada sang bunda, syifa masuk tanpa tas, mendengar cerita syifa, suara ibunya semakin sesak dan terputus-putus, ibunya terharu dan menangis melihat perjuangan anak ragilnya untuk bisa tatap sekolah mengejar cita-citanya.
Sekolah baru syifa tak kalah favorit di banding sekolah yang dulu ia idamkan, tapi tak seorangpun teman menyapanya, ia berhari-hari hanya ngobrol bersama adik kelasnya, tiba-tiba seorang teman sekelasnya menghampiri syifa ketika ia sedang menulis beberapa pelajaran yang tertinggal.
Teman dari bengkulu, lia ia memanggilnya syifa hanya nyambung berteman dengan lia, ia susah bersosialisasi ke teman yang lainnya, temannya lia punya fisik yang lebih lemah di banding ia, sampai lia harus pindah dari sana di awal kelas dua.
Syifa tak terbiasa belajar bersama, ia lebih suka da enjoy belajar di tempat yang sepi dan menyendiri berbeda dengan teman-temannya, mungkin itu yang membuatnya kurang nyambung bareng teman kelasnya, bahkan teman satu jurusannya.
Hari-hari semakin berlalu syifa tak seperti santri lainnya yang dapat jatah perbulan uang jajan, karena pendapatan orang toanya yang tak menentu, setiap uangnya habis baru dia minta lagi, bahkan untuk beli buku atau iuran dadakan selama uang jajannya masih cukup buat membayar ia takkan meminnta ke orangtuanya lagi.
Satu tahun sekali ia pulang, ketika mau balik ke pondok liburan lebaran tiket bis melonjat tinggi, uang orangtua syifa tak cukup buat beli tiket, tapi allah selalu memberi jalan kepadanya, ia ikut orangtua kakak iparnya yang tinggal di cibubur, ia perjalanan naik mobil truck di belakang, yang di atasnya telah di tutup dengan terpal, semua itu ia jalani tanpa sedikitpun malu ada dalam batinnya, yang ia fikirkan hanyalah sebuah jalan bagaimana ia bisa mengejar cita-citanya.
Kini syifa telah tumbuh remaja teman-temannya mulai bisa menerima kehadirannya bahkan teman satu jurusan yang dulunya tak pernah nyambung kini jadi sahabatnya, sungguh pertemanannya membutuhkan dua tahun lamanya untuk menyatu.
Liburan semester kelas dua belas akan segera tiba, hari minggu setiap santri dapat jatah telfon keluarganya, ibunya bercerita bahwa ada seseorang yang menunggunya di rumah, itu berarti ia di jodohkan yang biasanya syifa tak di izinin pulang pas liburan kini ia di paksa-paksa untuk pulang, tapi syifa tak ingin mengecewakan ibunya ia tetap pulang tapi bersama teman satu jurusan juga wali kelasnya syifa ingin buat temannya senang sebelum mereka harus berpisah.
Pembagian raport anak ipa memang selalu mendebarkan karena diantara mereka tak ada yang bertahan nilai persemester, tapi semester ini membuatnya bahagia bercampur sedih, syifa dapat peringkat pertama ini akn menjadi kabar gembira buat orang tuanya, tapi syifa takut syifa sedih ia takut peringkat pertama membuatnya sombong dan meremehkan pelajaran, tapi ia segera membuang sisi negatifnya ia menjadikan itu sebagai tantangan buatnya.
Ia pulang bersama temannya, tapi teman dan wali kelasnya hanya empat hari di rumah syifa, setelah temannya pulang orang yang pernah diceritakan ibunya datang kerumah paman dari bapaknya yang tinggal satu kampung dengannya.
Pertemuan diantara mereka berdua terjadi, syifa yang terkenal sebagai gadis yang cerewet, saat itu terdiam tak bersuara, hanya menjawab dengan jawaban sedanya,tak banyak kata-kata yang keluar berpamitan terlebih dulu.
*****
Hari-hari ia lalui dengan berbagai kegiatan di pondok yang begitu padat, bahkan tak seperti teman yang lainnya, yang bisa tidur di jam dua sampai jam tiga, waktu itu ia gunakan untuk nyuci baju, kenapa teman-temannya tidak nyuci juga, karena mereka loundri baju mereka, terkdang ia juga menggunakan waktu luang itu untuk mengerjakan PR atau mengulas beberapa pelajaran yang tidak ia mengerti, ia melakukan semua itu karena ia merasa jika ia hanya tidur-tiduran yang ia lakukan tidk seimbang dengan apa yang di kerjakan orang tuanya, yang panas-panasan di sawah demi mencarii sesuap nasi untuk keluarga juga untuk biaya sekolah syifa.
Sampai kini tiba detik-detik menjelang Ujian Nasional, sejak semester dua tiba wali kelas syifa (pak yusuf) membuat sebuah peraturan baru untuk belajar lebih menjelang Uian Nasional, kelas IPA mereka barangkat sekolah jam enam, mereka juga menirima belajar tambahan di malam hari, jika teman-teman yang lain belajar mandiri sampai jam sepuluh, mereka di wajibkan selesai jam dua belas malam, dengan model belajar kelompok. Itu mereka lakukan selama satu semester menjelang Ujian Nasional tiba.

href=”https://nailyssyifa.files.wordpress.com/2013/09/neli.jpg”>NELI

Pengumuman kelulusan tiba, semua siswa kelas dua belas dinyatakan lulus, kebahagian mengelililngi mereka, sampai saat detik terakhir mereka berada di pesantren. Haflah akhir tahun, malam itu orang tua syifa tidak bisa hadir, uang, ya mereka tak hadir karena tak ada biaya transportasi ke sana. Tapi ia tak berkecil hati, malam itu menjadi malam terakhirnya bersama teman-temannya, air mata tumpah di setiap wajah peserta dan tamu undangan yang hadir.<a

Usaha Pencapaian Prestasiku

Menjadi diri sendiri adalah pilihan penting dalam hidup, serta tahapan yang sangat menentukan untuk mencapai impian masa depan. Langkah awal yang paling mendasar demi meraih impian adalah berani bermimpi. Kita harus berani mengambil keputusan penting dalam hidup, serta berani berkata kepada dunia “inilah aku”.
Sebuah kalimat yang mampu menyihirku, sebuah kalimat yang mampu mendoktrin fikiranku, sebuah kalimat yang menyelundup masuk dalam rangkaian kalimat motto kehidupanku.
“keluarlah dari rumah, lalu perhatikanlah segala sesuatu yang ada di sekitar kita! Dakilah gunung-gunung, jamahlah tanah di lembah-lembah, panjatlah batang-batang pepohonan, reguklah air yang jernih, dan ciumlah harumnya bunga-bunga! Pada saat-saat yang demikian itu,kita akan menemukan jiwa yang benar-benar merdeka dan bebas seperti burung yang berkicau melafalkan tasbih di angkasa kebahagiaan”. –‘Aidh al-Qarni-.
Kalimat tersebut, kalimat yang membawaku sampai di sini, ke dunia yang sebelumnya jauh dari anganku, di sisini aku melakukan semuanya, melangkah, menaiki gunung terjal untuk menggapai prestasiku, walau sesekali aku terpeleset dan tersandung oleh bebatuan dan harus mengulang kembali untuk kemudian tegap dan melanjutkan langkah kakiku.
Karena aku selalu yakin bahwa hanya orang-orang yang berani gagal total yang akan meraih keberhasilan total. Aku selalu berfikir jika aku tak memiliki kemauan yang kuat percuma saja keinginanku untuk menggapai bintang di langit, bila menembus titik gerimis saja aku sudah menggigil. Apa gunanya sejuta perencanaan dan ancang-ancangku kalau hanya muntah di ujung lidah.
Kami lima bersaudara perempuan semua,dan akulah yang paling terakhir keluar dari rahim ibuku diantara mereka kakak-kakakku, sejak kecil aku telah berangan-angan dan bermimpi mengenai masa depanku, berawal dari keinginanku untuk melajutkan sekolah di SMA favorit, tapi prosesnya tak semudah proses kakakku ketika masuk dalam SMA favorit, ekonomi orang tuaku tak seperti dulu, ayah hanya bilang padaku untuk selalau berdo’a, karena semuanya hanya allah yang menentukan, dua bulan aku hanya bantu-bantu orang tua di rumah dan selalu berdo’a berharap untuk tetap bisa melanjutkan SMA.
Kesana-kemari ayah menawarkan dagangannya, beliau telah keluar rumah jam setengah empat pagi, saat semuanya masih terlelap oleh kegelapan, sosok pahlawan yang berjuang untuk kehidupan. panas terik matahari tak menyurutkan semangat beliau untuk tetap mengendarai sepeda motor bututnya dengan beban sekitar 75 kg di bagian belakang.
Sebelum ayah berangkat beliau selalu mengetok pintu kamarku, “syifa ayah janji, akan membiayai sekolah syifa lagi, sebentar lagi syifa berangkat sekolah bareng temen-temen, sabar dan berdo’alah nak, ayah berangkat dulu,” beliau selalu membisikkan itu di telingaku. Aku tak ingin kalah dengan ayah, ketika ayah bangun aku harus bangun, ketika ayah istirahat aku juga istirahat, aku harus mampu mengimbangi perjuangan beliau.
Pagi itu juga aku bongkar buku kakakku yang telah lusuh penuh debu, berbagai pelajaran aku pahami tanpa bimbingan seorang guru, tapi aku selalu yakin aku bisa, lalu kemana kakakku? Tiga saudaraku telah menikah, satu lagi kuliah di STEKOM semarang, itupun kakak sambil bekerja sendiri untuk biaya kuliah.
Kubuka lembar demi lembar buku lusuh itu, tiba-tiba aku teringat ayah, yang sedang berjuang untukku, air mataku membasahi buku itu. Ayah aku akan membuktikan kalau semua ini tak akan sia-sia, aku segera mengusap air mataku, kemudian membuka lembar baru.
Aku dapat panggilan dari paman yang tinggal di bogor, aku di tawari untuk sekolah di depok, di sinilah al-Nahdlah Islamic Senior High School akhirnya aku melanjutkan SMA, SMA yang tak kalah dengan SMA favorit di desaku, bahkan lebih dari itu, meski harus jauh dari orang tua tapi aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, awalnya ibu berat untuk melepasku jauh darinya, tapi, ayah selalu meyakinkan ibu kalau aku bisa.
Sampai sekarang aku di al-Nahdlah tanpa di pungut biaya pendidikan sepeserpun, besiswa aku dapatkan tanpa tes, nilai raport dan prestasiku yang membuat aku bertahan sampai kelas tiga SMA, aku memiliki sistem yang berbeda dengan teman-temanku, aku beranggapan dari awal bahwa aku harus mampu mengimbangi usaha orangtuaku, aku belajar ketika teman-temanku tertidur, ketika mataku telah tak sanggup membaca huruf-huruf dalam bukuku, aku segera mengingat perjuangan orangtuaku di rumah, itu yang membangkitkan semangatku untuk kembali mendaki gunung impianku.
Kini saatnya aku harus berfikir kembali kemana aku harus melanjutkan sekolahku, akankah aku tetap sekolah atau mengikuti kata kakakku, sejak kelas dua aliyah aku di jodohkan oleh pamanku dengan orang yang tak aku kenal sama sekali, “syifa ibu dan ayah udah tua, syifa tega melihat mereka merangkak kembali, untuk mencari uang segitu besarnya buat kuliah syifa? Tugas seorang perempuan hanya satu, menjadi wanita sholehah yang berbakti dengan suami, dan membahagiakan orang tua, syifa jangan beranggapan dengan syifa melanjutkan kuliah kemudian syifa mampu membahagiakan ayah dan ibu, tak semua orang bisa, jangan terlalu tinggi bermimpi, karena kamu akan terjatuh lebih sakit, semakin lama syifa berkeluarga semakin bertambah pula fikiran ayah dan ibu syif,”.
“Ya allah aku bingung dengan semua ini,”. Ayah tak pernah memaksaku untuk terjun dalam dunia perjodohan itu, ayah hanya berpesan untuk selalu istikhoroh meminta petunjuk, semakin aku istikhoroh semakin aku yakin untuk melanjutkan sekolahku, tak seorang kakakku setuju dengan pilihanku, tak seorangpun kakakku yang berniat untuk membantuku mencari info kuliah buatku.
Aku selalu yakin, aku bisa, semua respon kakakku aku jadikan sebuah semangat power untuk membuktikan ke mereka, bahwa aku bisa, ayah selalu bilang, jangan pedulikan orang di sekitarmu, lakukanlah yang menurut allah itu benar bukan menurut siapa-siapa, hanya allah yang mampu berkehendak dengan semuanya, ayah akan selalu berdo’a untukmu, jangan fikirkan ayah dan ibu di sini, semuanya akan baik-baik saja, ayah hanya makan bangku sekolahan selama dua tahun di SD, tapi pengetahuannya tak kalah dengan seorang doctor.
Semangat yang selalu di berikan ayahku membuatku semakin bangkit untuk mendaki gunung itu. Berbagai jalur beasiswa aku cari infonya, belajar dan berdo’a, hanya itu yang ada dalam diriku dan kehidupanku saat ini, aku tak akan menyerah sampai kapanpun, aku akan membuktikan kepada semunya. “AKU BISA”

MANFAAT TEKNOLOGI DALAM DUNIA PENDIDIKAN

images

Pengaruh teknologi dalam dunia pendidikan begitu banyak, contohnya internet yang kini bisa di akses oleh siapa aa, tanpa terkecuali. Ivan Illich meramalkan sejak tahun 70an bhwa kemungknan paling ekstrim adalah guru yang tidak diperlukan lagi dalam dunia pendidikan. Namun kembali pada manfaat teknologi itu sendiri sebenarya hanyalah penolong atau pembantu kesulitan yang kita temui. Secara spesifik ilmu itu bisa di jelaskan lebih detail oleh seorang seorang guru atau dosen.

Berikut contoh manfaat teknologi dalam dunia pendidikan :
1. Manfaat Teknologi dalam dunia Pendidikan dijadikan alat dalam mendukung pengembangan pengetahuan bagi para siswa.
2. Manfaat Teknologi dalam dunia Pendidikan dapat mewakili gagasan pelajar bagi pemahaman dan kepercayaan
3. Manfaat Teknologi dalam dunia Pendidikan merupakan salah satu sarana informasi yang sangat mendukung dalam proses belajar siswa serta dalam hal pencarian dan pengidentifikasian informasi yang diperlukan siswa.
4. Manfaat Teknologi dalam dunia Pendidikan dapat dijadikan sebagai perbandingan kepercayaan, perspektif, dan pandangan terhadap dunia.
5. Manfaat Teknologi dalam dunia Pendidikan sangat bermanfaat sebagai media sosial yang dipergunakan untuk mendukung proses berbicara bagi siswa yang terkadang enggan berbicara didepan umum.
6. Manfaat Teknologi dalam dunia Pendidikan dipergunakan siswa untuk berkolaborasi dengan siswa ataupun orang lain.
7. Manfaat Teknologi dalam dunia Pendidikan dipergunakan untuk berdiskusi, penyampaian pendapat serta membangun konsensus antar anggota.
8. Manfaat teknologi dalam dunia Pendidikan dapat dipergunakan sebagai mitra intelektual dalam perannya untuk mendukung para pelajar.
9. Manfaat Teknologi dalam dunia Pendidikan dapat membantu pelajar dalam mengartikulasikan dan memprentasikan ilmu apa yang mereka ketahui tentang sesuatu hal.
10. Manfaat Teknologi dalam dunia Pendidikan dijadikan alat dalam meningkatkan mutu pendidikan dan sekolah yang menerapkannya.
11. Manfaat Teknologi dalam dunia Pendidikan dapat membantu meningkatkan efektifitas serta efisiensi proses belajar dan mengajar (siswa dan guru).
12. Dalam dunia Pendidikan dipergunakan untuk mempermudah pelajar dalam mencapai tujuan pendidikan.

Keuntungan yang dapat diterima peserta didik dari pemanfaatan IT di Sekolah

1. Peserta didik akan dapat mengakses informasi-informasi yang dibutuhkan meskipun itu adalah hasil penelitian orang lain (dengan legalitas copypaste).
2. Peserta didik akan mendapat mengakses sumber pengetahuan lebih mudah dibanding sebelum penerapan manfaat teknologi, karena pengaksesan informasi telah banyak dipergunakan dengan media gadget (HP, Ipad, Mobile Tab).
3. Peserta didik dapat mendapatkan Akses yang lebih mudah ke para ahli.
4. Materi-materi pelajaran akan lebih tampil secara interaktif dan menarik, serta penyampaiannya akan lebih konseptual.
5. Materi-materi pendidikan dapat di akses melalui belajar jarak jauh jika terkendali oleh kendala biaya dan waktu

http://artikelterkait.com/manfaat-teknologi-dalam-dunia-pendidikan.html#ixzz2fF1AsNAc