Usaha Pencapaian Prestasiku

Menjadi diri sendiri adalah pilihan penting dalam hidup, serta tahapan yang sangat menentukan untuk mencapai impian masa depan. Langkah awal yang paling mendasar demi meraih impian adalah berani bermimpi. Kita harus berani mengambil keputusan penting dalam hidup, serta berani berkata kepada dunia “inilah aku”.
Sebuah kalimat yang mampu menyihirku, sebuah kalimat yang mampu mendoktrin fikiranku, sebuah kalimat yang menyelundup masuk dalam rangkaian kalimat motto kehidupanku.
“keluarlah dari rumah, lalu perhatikanlah segala sesuatu yang ada di sekitar kita! Dakilah gunung-gunung, jamahlah tanah di lembah-lembah, panjatlah batang-batang pepohonan, reguklah air yang jernih, dan ciumlah harumnya bunga-bunga! Pada saat-saat yang demikian itu,kita akan menemukan jiwa yang benar-benar merdeka dan bebas seperti burung yang berkicau melafalkan tasbih di angkasa kebahagiaan”. –‘Aidh al-Qarni-.
Kalimat tersebut, kalimat yang membawaku sampai di sini, ke dunia yang sebelumnya jauh dari anganku, di sisini aku melakukan semuanya, melangkah, menaiki gunung terjal untuk menggapai prestasiku, walau sesekali aku terpeleset dan tersandung oleh bebatuan dan harus mengulang kembali untuk kemudian tegap dan melanjutkan langkah kakiku.
Karena aku selalu yakin bahwa hanya orang-orang yang berani gagal total yang akan meraih keberhasilan total. Aku selalu berfikir jika aku tak memiliki kemauan yang kuat percuma saja keinginanku untuk menggapai bintang di langit, bila menembus titik gerimis saja aku sudah menggigil. Apa gunanya sejuta perencanaan dan ancang-ancangku kalau hanya muntah di ujung lidah.
Kami lima bersaudara perempuan semua,dan akulah yang paling terakhir keluar dari rahim ibuku diantara mereka kakak-kakakku, sejak kecil aku telah berangan-angan dan bermimpi mengenai masa depanku, berawal dari keinginanku untuk melajutkan sekolah di SMA favorit, tapi prosesnya tak semudah proses kakakku ketika masuk dalam SMA favorit, ekonomi orang tuaku tak seperti dulu, ayah hanya bilang padaku untuk selalau berdo’a, karena semuanya hanya allah yang menentukan, dua bulan aku hanya bantu-bantu orang tua di rumah dan selalu berdo’a berharap untuk tetap bisa melanjutkan SMA.
Kesana-kemari ayah menawarkan dagangannya, beliau telah keluar rumah jam setengah empat pagi, saat semuanya masih terlelap oleh kegelapan, sosok pahlawan yang berjuang untuk kehidupan. panas terik matahari tak menyurutkan semangat beliau untuk tetap mengendarai sepeda motor bututnya dengan beban sekitar 75 kg di bagian belakang.
Sebelum ayah berangkat beliau selalu mengetok pintu kamarku, “syifa ayah janji, akan membiayai sekolah syifa lagi, sebentar lagi syifa berangkat sekolah bareng temen-temen, sabar dan berdo’alah nak, ayah berangkat dulu,” beliau selalu membisikkan itu di telingaku. Aku tak ingin kalah dengan ayah, ketika ayah bangun aku harus bangun, ketika ayah istirahat aku juga istirahat, aku harus mampu mengimbangi perjuangan beliau.
Pagi itu juga aku bongkar buku kakakku yang telah lusuh penuh debu, berbagai pelajaran aku pahami tanpa bimbingan seorang guru, tapi aku selalu yakin aku bisa, lalu kemana kakakku? Tiga saudaraku telah menikah, satu lagi kuliah di STEKOM semarang, itupun kakak sambil bekerja sendiri untuk biaya kuliah.
Kubuka lembar demi lembar buku lusuh itu, tiba-tiba aku teringat ayah, yang sedang berjuang untukku, air mataku membasahi buku itu. Ayah aku akan membuktikan kalau semua ini tak akan sia-sia, aku segera mengusap air mataku, kemudian membuka lembar baru.
Aku dapat panggilan dari paman yang tinggal di bogor, aku di tawari untuk sekolah di depok, di sinilah al-Nahdlah Islamic Senior High School akhirnya aku melanjutkan SMA, SMA yang tak kalah dengan SMA favorit di desaku, bahkan lebih dari itu, meski harus jauh dari orang tua tapi aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, awalnya ibu berat untuk melepasku jauh darinya, tapi, ayah selalu meyakinkan ibu kalau aku bisa.
Sampai sekarang aku di al-Nahdlah tanpa di pungut biaya pendidikan sepeserpun, besiswa aku dapatkan tanpa tes, nilai raport dan prestasiku yang membuat aku bertahan sampai kelas tiga SMA, aku memiliki sistem yang berbeda dengan teman-temanku, aku beranggapan dari awal bahwa aku harus mampu mengimbangi usaha orangtuaku, aku belajar ketika teman-temanku tertidur, ketika mataku telah tak sanggup membaca huruf-huruf dalam bukuku, aku segera mengingat perjuangan orangtuaku di rumah, itu yang membangkitkan semangatku untuk kembali mendaki gunung impianku.
Kini saatnya aku harus berfikir kembali kemana aku harus melanjutkan sekolahku, akankah aku tetap sekolah atau mengikuti kata kakakku, sejak kelas dua aliyah aku di jodohkan oleh pamanku dengan orang yang tak aku kenal sama sekali, “syifa ibu dan ayah udah tua, syifa tega melihat mereka merangkak kembali, untuk mencari uang segitu besarnya buat kuliah syifa? Tugas seorang perempuan hanya satu, menjadi wanita sholehah yang berbakti dengan suami, dan membahagiakan orang tua, syifa jangan beranggapan dengan syifa melanjutkan kuliah kemudian syifa mampu membahagiakan ayah dan ibu, tak semua orang bisa, jangan terlalu tinggi bermimpi, karena kamu akan terjatuh lebih sakit, semakin lama syifa berkeluarga semakin bertambah pula fikiran ayah dan ibu syif,”.
“Ya allah aku bingung dengan semua ini,”. Ayah tak pernah memaksaku untuk terjun dalam dunia perjodohan itu, ayah hanya berpesan untuk selalu istikhoroh meminta petunjuk, semakin aku istikhoroh semakin aku yakin untuk melanjutkan sekolahku, tak seorang kakakku setuju dengan pilihanku, tak seorangpun kakakku yang berniat untuk membantuku mencari info kuliah buatku.
Aku selalu yakin, aku bisa, semua respon kakakku aku jadikan sebuah semangat power untuk membuktikan ke mereka, bahwa aku bisa, ayah selalu bilang, jangan pedulikan orang di sekitarmu, lakukanlah yang menurut allah itu benar bukan menurut siapa-siapa, hanya allah yang mampu berkehendak dengan semuanya, ayah akan selalu berdo’a untukmu, jangan fikirkan ayah dan ibu di sini, semuanya akan baik-baik saja, ayah hanya makan bangku sekolahan selama dua tahun di SD, tapi pengetahuannya tak kalah dengan seorang doctor.
Semangat yang selalu di berikan ayahku membuatku semakin bangkit untuk mendaki gunung itu. Berbagai jalur beasiswa aku cari infonya, belajar dan berdo’a, hanya itu yang ada dalam diriku dan kehidupanku saat ini, aku tak akan menyerah sampai kapanpun, aku akan membuktikan kepada semunya. “AKU BISA”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s